oleh: Ni Kadek Juliantari

Di sebuah kerajaan Manik Bumi, raja memerintah dengan arif dan bijaksana. Warganya sangat patuh kepada titah Sang Raja. Tidak ada yang berani menentang apapun yang dikatakan oleh Sang Raja. Namun, semua itu berubah ketika datang Monster Plastik ke kerajaan tersebut. Monster itu menyamar menjadi benda-benda yang bisa praktis digunakan oleh warga. Melihat kejadian itu, Sang Raja lalu memanggil Perdana Menterinya.

“Wahai… Perdana Menteri, apakah gerangan yang melanda kerajaanku ini? Mengapa rakyatku tidak lagi membuat periuk, tidak lagi membuat tempayan, tidak lagi beraktivitas di kebun mencari dedaunan? Cobalah selidiki!” Perintah Sang Raja.

“Baiklah, Paduka Raja. Hamba akan menelusurinya ke desa-desa. Apa sesungguhnya yang terjadi pada warga.”

Perdana Menteri dengan dikawal oleh pasukannya pun berangkat ke desa-desa. Perdana Menteri kaget. Dia melihat warga desa menggunakan benda-benda yang tidak pernah ada di sana. Warganya tampak menggunakan periuk plastik, tempayan plastik, ember plastik. Bahkan yang lebih membuatnya heran lagi adalah makanan yang semula dibungkus dengan berbagai dedaunan yang ada di sana berubah kemasannya menjadi dibungkus plastik.

“Lalu Perdana Menteri tersebut membunyikan sangkakala untuk mengumpulkan warga.” Mendengar sangkakala itu, warga mendekat. Perdana Menteri mulai berbicara.

“Wahai… warga desa, abdi Kerajaan Manik Bumi aku ingin bertanya kepada kalian semua. Di manakah kalian mendapatkan benda-benda seperti ini?” Ucapnya sambil menunjukkan berbagai benda yang terbuat dari plastik yang diambilnya dari beberapa warga di sana. Lalu, salah seorang warga memberanikan diri untuk menjawabnya.

“Kami mendapatkannya dari Kerajaan tatangga.”

“Oh… tidak. Ini tidak benar. Ini tidak baik.” Kata Perdana Menteri itu.

“Kenapa tidak benar? Kenapa tidak baik? Kami justru terbantu dengan benda-benda praktis seperti ini.” Tanya warga penasaran.

“Ini akan membahayakan kerajaan kita dan akan membahayakan kelangsungan hidup kita semua.” Tegas Perdana Menteri.

Namun, para warga desa tidak menghiraukannya. Lalu, cepat-cepatlah Perdana Menteri itu kembali ke istana untuk melaporkannya kepada Sang Raja. Sesampainya di Kerajaan, Perdana Menteri langsung menghadap Raja. Dia melaporkan apa yang dilihatnya di desa-desa.

“Paduka Raja… Paduka Raja… ini gawat Paduka Raja.”

“Ada apa Perdana Menteri. Apa yang terjadi? Berbicaralah pelan-pelan.”

Lalu Perdana Menteri menceritakan apa yang dilihatnya kepada Sang Raja. Dia menceritakan bahwa warga desa sekarang sudah mulai menggunakan plastik. Semua makanan dikemas dengan plastik. Peralatan yang digunakan semuanya serba plastik.

Sang Raja tidak mau tinggal diam. Dia tidak mau kelangsungan Kerajaan Manik Bumi diganggu oleh monster plastik. Lalu, Sang Raja bertitah: “Perdana Menteri sampaikanlah titahku ini kepada seluruh rakyatku. Suruh mereka besok pagi berkumpul di Alun-alun Istana. Jangan sampai ada yang tidak datang.” Perdana Menteri menganggukkan kepala dan mohon pamit. Dia pun berangkat menyampaikan titah Sang Raja tersebut.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali warga sudah memenuhi alun-alun istana. Lalu bersabdalah Sang Raja:

“Wahai… para abdiku yang setia, para rakyatku yang aku sayangi, aku memerintahkan kalian agar tidak menggunakan plastik di kerajaan ini. Kembalilah menggunakan peralatan-peralatan tradisional yang kalian buat sendiri dari tanah liat. Selain itu menjadi mata pencaharian kalian, itu juga ramah lingkungan. Berhentilah menggunakan plastik. Plastik itu akan sangat berbahaya bagi kelangsungan Kerajaan Manik Bumi dan kelangsungan hidup kalian. Kembalilah mengemas makanan dengan dedaunan yang ada di Kerajaan Manik Bumi. Justru itu akan membuat rasa makanan lebih nikmat daripada dikemas dengan plastik.”

Namun, warga tidak mendengarkan titah Sang Raja. Mereka tetap mau menggunakan peralatan dari plastik dan mengemas makanan dengan plastik karena lebih praktis. Sang Raja yang mendengar bantahan rakyatnya tersebut menjadi sedih.

“Baiklah, wahai rakyatku. Kalau kalian mau mendengarkan titahku, maka tetaplah di sini menjadi abdiku. Namun, bagi kalian yang tetap mau menggunakan plastik, silakan kalian pergi ke Negeri Plastik. Kalian menganggap Negeri Plastik itu indah bukan? Silakan, aku izinkan kalian ke sana. Di sana kalian akan menemukan monster-monster plastik yang banyak.”

Warga juga tetap mengabaikan hal itu. Hanya beberapa warga yang mau mendengarkan titah Sang Raja. Yang tidak mau mengikuti titah Sang Raja, seketika itu pula mereka berbondong-bondong pergi meninggalkan Kerajaan Manik Bumi. Mereka melangkah ke arah barat menuju Kerajaan tetangga yang dikenal dengan nama Negeri Plastik.

Sesampainya di Negeri Plastik, warga Manik Bumi disambut dengan hangat dan dijamu dengan berbagai makanan dan minuman yang enak-enak. Warga dijamin pekerjaannya sebagai pekerja di pabrik plastik. Hari-hari mereka dihabiskan untuk memproduksi plastik-plastik yang akan digunakan oleh warga di Negeri Plastik. Mereka tidak dapat lagi menikmati hamparan sawah yang luas, menikmati kicauan burung di tegalan, menikmati sejuknya angin sepoi-sepoi tatkala menggembala sapi. Namun, ini sudah menjadi pilihan mereka meninggalkan Kerajaan Manik Bumi.

Sementara itu, di Kerajaan Manik Bumi kehidupan kembali seperti sediakala. Rakyat yang semula menggunakan plastik beralih lagi menggunakan peralatan-peralatan tradisional. Mereka telah berjanji kepada Sang Raja untuk tidak menggunakan plastik lagi.

Beberapa tahun telah berlalu, kehidupan warga di Kerajaan Manik Bumi tetap aman, tentram, dan damai. Hidup berkecukupan dengan hasil bumi yang melimpah ruah. Sementara, warga Manik Bumi yang pergi ke Negeri Plastik hidup kekurangan, tidak ada tanaman yang tumbuh subur di sana. Hawa Negeri Plastik juga semakin panas. Tumpukan-tumpukan plastik-plastik bekas menggunung di mana-mana.  Mereka mulai merasa tidak nyaman dengan pemandangan itu.

“Lihatlah…kawan. Negeri yang semula kita bangga-banggakan sampai kita rela meninggalkan Kerajaan Manik Bumi ternyata sekarang seperti ini. Sungguh tidak enak dipandang mata.” Salah seorang warga menyatakan penyesalannya. Lalu, yang lainnya menimpali.

“Iya mungkin ini yang ditakutkan oleh Raja Manik Bumi. Raja tidak ingin Kerajaan Manik Bumi yang sejuk dan asri berubah seperti ini.”

“Kita telah bersalah kepada Sang Raja. Mungkinkah Raja akan memaafkan kita? Mungkinkan Raja mengizinkan kita kembali ke Kerajaan Manik Bumi?” Mereka berdiskusi. Lalu, yang lain lagi menimpali.

“Kalau kita tetap ada di sini, lama-lama kita akan tertimbun plastik di sini. Kita bisa mati oleh monster-monster plastik ini. Raja Manik Bumi sangat baik dan bijaksana. Raja pasti mau memaafkan dan menerima kita.”

Akhirnya, warga memutuskan untuk kembali ke Kerajaan Manik Bumi. Di perbatasan mereka sudah disambut oleh Sang Raja.

“Wahai… rakyatku. Aku tahu kalian pasti akan kembali. Aku sebenarnya tidak mengusir kalian. Aku hanya ingin kalian secara langsung merasakan bagaimana kehidupan di Negeri Plastik. Sekarang kalian sudah merasakannya langsung. Aku yakin dengan pengalaman kalian beberapa tahun di Negeri Plastik, kalian akan menjaga Kerajaan Manik Bumi dari bahaya monster plastik.”

Semua warga merasa bahagia mendengar sambutan Sang Raja. Warga Manik Bumi merasa bersyukur memiliki Raja yang baik dan bijaksana. Sejak saat itu, warga kembali menjalani aktivitasnya seperti sediakala, mereka kembali menggunakan benda-benda yang terbuat dari tanah liat, mereka menggunakan dedaunan untuk membungkus makanan. Tidak sedikit pun terlintas di pikiran mereka ingin menggunakan plastik lagi. Mereka akhirnya hidup bahagia bersama di lingkungan Kerajaan Manik Bumi yang sejuk, asri, dan subur.

Penulis Cerita

Ni Kadek Juliantari, lahir di Ulakan (Karangasem, Bali) pada 3 Juli 1987, menjadi dosen di STKIP Agama Hindu Amlapura

Leave A Comment

All fields marked with an asterisk (*) are required

Hubungi kami di WhatsApp
1